Pembelajaran Satuan Berat di Kelas IV SD dengan Pendekatan PMRI

LAPORAN OBSERVASI DI SD XAVERIUS I PALEMBANG (LAPORAN KE-5)

SATUAN BERAT

PENGANTAR

Materi pelajaran satuan berat di kelas IV SD merupakan rangkaian materi dari materi-materi pengukuran seperti satuan panjang, satuan waktu, dan lain lain. Dalam kehidupan sehari-hari siswa telah mengenal penggunaan satuan berat seperti ketika mereka melakukan pemeriksaan kesehatan di sekolah atau di tempat-tempat pemeriksaan kesehatan yang lain. Pada saat pemeriksaan kesehatan tersebut, salah satu hal yang dilakukan adalah pengukuran berat badan. Mereka juga telah familiar dengan penggunaan satuan berat untuk menentukan berat suatu benda atau bahan-bahan kebutuhan sehari-hari ketika mereka berbelanja di toko, misalnya berat buah dll. Untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait satuan berat, pada observasi kelas yang diadakan pada kesempatan kali ini, siswa akan dikenalkan kembali tentang alat-alat yang bisa digunakan untuk mengukur berat. Selain itu mereka juga akan diberikan soal-soal kontekstual terkait penggunaan satuan berat dengan sebelumnya mereka akan diajarkan tentang konversi satuan berat. Pada observasi kali ini siswa tidak langsung dikenalkan dengan unit pengukuran untuk satuan berat, tetapi diawali dengan penanaman pemahaman tentang perbandingan berat dua buah benda, apakah beratnya sama, lebih berat atau lebih ringan.

TUJUAN

Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui pemahaman siswa terkait satuan berat dengan menggunakan alat ukur satuan berat dan pemberian soal-soal kontekstual.

PERTANYAAN OBSERVASI

Apakah alat ukur berat yang digunakan dan soal-soal yang diberikan dapat membantu pemahaman siswa terkait satuan berat?

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada observasi kali ini Septi dan Yeni selaku observer bekerja sama dengan Bapak Wasis, guru kelas IVB SD Xaverius I Palembang. Dalam belajar mengajar tentang satuan berat. Pak Wasis menggunakan timbangan berat badan untuk memperkenalkan alat ukur berat kepada siswa. Setiap siswa maju kedepan kelas untuk diukur berat badannya. Mereka melihat sendiri jarum yang ditunjukkan pada timbangan dengan dibantu pak Wasis untuk memastikan berapakah berat badan mereka. Pada timbangan berat badan yang digunakan, satuan berat yang digunakan adalah kg. Setiap kali siswa selesai mengetahui berat badannya, Pak Wasis menanyakan kepada mereka berapakah berat badan mereka jika satuannya dikonversikan dalam satuan pond dan ons. Seluruh siswa bisa menentukan berat badannya dalam pond dan ons. Perbedaan yang ada hanya pada kecepatan mereka dalam menentukan hasil konversinya. Terkait konversi satuan dari kg ke pon atau ons dan sebaliknya, sebelum pembelajaran ini siswa telah mempelajarinya di kelas. Mereka juga telah belajar perubahan satuan kg ke kwintal dan ton.

Berikut ini beberapa gambar ketika siswa sedang menimbang berat badan mereka di depan kelas:

Setelah seluruh siswa menyelesaikan penimbangan berat badan mereka, pembelajaran di kelas dilanjutkan oleh pengobservasi. Siswa diminta untuk menentukan perbandingan dua buah alat tulis yang mereka miliki, seperti kotak pensil dan buku, buku besar dan kecil, pulpen dan buku, dll. Dari perbandingan ini, mereka bisa memperkirakan mana yang lebih berat, lebih ringan atau beratnya sama. Mereka juga diminta untuk memperkirakan berat dua orang siswa yang telah diminta untuk maju ke depan kelas. Sebagian siswa sebenarnya masih ingat berapa berat badan dua orang yang maju di depan kelas, tetapi dijelaskan kepada mereka bagaimana mereka bisa memperkirakan mana yang lebih berat, lebih ringan atau sama jika mereka belum melakukan penimbangan berat badan sebelumnya. Mereka memperkirakannya dari postur tubuh mereka mana yang lebih gemuk atau kurus. Ketika dipanggil dua orang siswa yang beratnya relative sama, hanya selisih 1 kg, siswa menyampaikan agak kesulitan menentukannya jika tanpa ditimbang. Mereka memperkirakan berat badan mereka sama, tetapi ternyata ada perbedaan. Dari sini, mereka bisa memahami tentang fungsi alat ukur berat yaitu dapat mengetahui secara pasti berapakah berat sesuatu. Berikut ini beberapa gambar ketika siswa diminta untuk memperkirakan berat dua buah alat tulis dan berat dua siswa yang ditunjuk untuk maju ke depan kelas.

Selain menggunakan alat ukur berat berupa timbangan berat badan, siswa juga diperkenalkan tentang alat ukur berat yang lain. Sebelum diperlihatkan melalui gambar macam-macam alat ukur berat, mereka diminta untuk menyebutkan alat ukur berat yang mereka ketahui dan bisanya digunakan untuk mengukur berat apa. Beberapa jawaban siswa adalah, neraca, timbangan bebek, timbangan yang ada di pasar-pasar atau took-toko, timbangan untuk tepung, dll.

Pembelajaran di kelas dilanjutkan penjelasan dari Pak Wasis mengenai konversi satuan dari kg hingga mg. Siswa kemudian diberikan soal-soal kontekstual yang telah disediakan oleh pengobservasi. Berikut ini contoh soal yang diberikan kepada siswa dan hasil jawaban mereka.

Soal yang diberikan adalah berbahasa inggris. Alasan penggunaan soal yang berbahasa Inggris adalah dari permintaan pak Wasis yang ingin melihat bagaimana kecakapan siswa dalam menjawab soal dan membuat inovasi sehingga soal matematika yang diberikan lebih beragam. Pada saat konsultasi dengan pak Wasis, beliau meyakini bahwa siswa-siswa mampu dalam memahami dan mengerjakan soal dalam bentuk bahasa Inggris tapi dalam level bahasa yang sederhana. Saat pelaksaan materi pembelajaran dan pemberian soal, karena ada siswa yang belum begitu lancar pemahaman bahasa Inggrisnya, siswa yang lainnya yang mengerti menerjemahkan maksud soalnya. Soal yang diberikan adalah soal dengan tingkat kesulitan yang beragam. Pada soal no 1 dan no 2 merupakan dua buah soal yang membutuhkan penjumlahan dalam menyelesaikannya. Hal ini tentulah tidak jadi masalah bagi siswa, tapi kami tetap menampilkan soal demikian atas permintaan pak Wasis dan ingin melihat apakah ada kesulitan yang akan dihadapi siswa bila diberikan soal dengan bahasa Inggris dan apakah kecepatan siswa dalam menjawab soal menjadi berkurang. Ternyata dari hasil observasi yang telah kami lakukan, untuk dua soal di awal tersebut, tidak menjadi kendala bagi para siswa. Dari hasil jawaban siswa, ada soal tertentu yang menurut sebagian besar siswa hal itu sulit, contoh soal no 3, no 4 dan no 5. Soal-soal tersebut cukup membuat siswa bingung karena kurang memahami maksud soal. Kemudian soal tersebut dibahas dikelas, dan siswa yang bisa mengerjakannya mencoba menjelaskan kepada teman-temannya yang lain. Akhirnya setelah dijelaskan kebanyakan siswa bisa mengerti. Hanya beberapa siswa yang perlu diajarkan per individu apa yang dimaksud dalam soal. Berikut ini gambar siswa sedang menerangkan jawabannya kepada teman-temannya yang lain di depan kelas.

Dari hasil pekerjaan siswa, dapat dilihat adanya beberapa cara yang digunakan siswa dalam menyelesaikan soal. Misalnya saja soal yang memiliki satuan berat berbeda, siswa cenderung menyelesaikan soal dengan mengkonversi berat sebuah benda ke yang lebih kecil. Selain atrategi jawaban siswa yang beragam untuk tiga nomor terakhir, hal baru yang kami temukan adalah bahwa siswa telah berani bertindak jujur. Karena soal yang dianggap sulit dibahas oleh beberapa orang siswa ke depan, siswa yang lain mengecek pekerjaan mereka dan memperbaikinya dengan memberi tanda salah. Jadi mereka berani mengatakan bahwa apa yang mereka kerjakan salah dan memiliki alasan mengapa kesalahan itu terjadi. Beberapa siswa yang mengalami kendala dalam menyelesaikan soal mengatakan bahwa yang menulitkan bagi mereka adalah sering salah perhitungan, salah konversi ke satuan yang diminta. Sedangkan tentang alasan bahasa, kebayakan siswa berpendapat bahwa bahasa tidak menjadi masalah untuk mereka.

Pada observasi ini, karena waktu pelajaran matematika masih tersedia, siswa diberikan soal tambahan yang dikemas dalam bentuk pertanyaan cepat tepat. Siswa yang bisa menjawab pertanyaan awal yang diberikan oleh observer, dia akan memberikan pertanyaan kepada siswa yang lain, dan siswa yang bisa menjawab dengan benar akan memberikan pertanyaan kepada temannya yang lain lagi. Permainan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan mencongak siswa dan secara tidak langsung mengajak siswa untuk berfikir kreatif dan inovatif dalam membuat soal yang akan diberikan pada temannya. Dari aktivitas ini, siswa tampak semangat dan mereka berusaha untuk menjawab setiap pertanyaan dari temannya yang lain dengan cepat dan tepat. Melalui cara ini, siswa juga berpikir bagaimana membuat soal untuk temannya yang lain.

Pada akhir pembelajaran, masing-masing siswa diberikan tugas untuk membuat sebuah soal terkait materi yang dipelajari pada hari itu. Soal tersebut ditulis pada selembar kertas yang mana pembuatnya harus tahu jawabannya. Kemudian soal ditukarkan dengan siswa yang lain yang akan menjawabnya. Ada sebuah soal yang sangat menarik hasil pekerjaan siswa yang muncul seperti pada gambar berikut.

Soal yang dibuat oleh Maureen ini merupakan sebuah soal cerita yang bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki beberapa satuan berat yang berbeda. Ketika ditanya bagaimana dia bisa mendapat ide untuk membuat soal semacam ini, ia berkata bahwa ia ingin membuat soal yang banayk ragamnya dari apa yang telah dipelajari. Soal ini kemudian dibacakan di depan kelas sebagai contoh pada siswa lainnya dan dibahas bersama. Dari aktivitas ini, selain meningkatkan pemahaman siswa terkait satuan berat, mereka juga bisa berlatih menurut kreativitas mereka untuk variasi soal yang baik beserta jawabannya. Dari soal-soal yang dibuat siswa terdapat beberapa soal kontekstual yang cukup bagus. Soal tersebut kemudian dikerjakan oleh seluruh siswa di kelas dan dilakukan pembahasan, siswa yang membuat soalnya yang melakukan penilaian apakah jawaban temannya benar atau salah.

KESIMPULAN

Pada pembelajaran satuan berat di kelas IVB SD Xaverius I Palembang, pembelajaran berjalan sesuaiĀ  dengan yang diharapkan. Hampir seluruh siswa dapat memahami konsep matematika terkait satuan berat. Alat ukur berat yang digunakan dalam observasi ini, yaitu timbangan berat badan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa bagaimana mengetahui satuan unit untuk berat serta dapat melakukan konversi satuan. Soal-soal yang diberikan juga dapat digunakan untuk mengukur pemahaman siswa mengenai satuan berat. Dari hasil observasi ini, siswa tidak hanya belajar menjawab soal menurut pemahaman mereka, tetapi juga mereka mampu menjelaskan jawaban mereka si depan kelas serta mampu membuat soal yang mereka juga mengetahui jawabannya untuk dijawab oleh temannya yang lain. Secara keseluruhan, alat ukur berat dan soal-soal yang diberikan dalam pembelajaran satuan beratĀ  di kelas IVB SD Xaverius I Palembang dapat membantu pemahaman siswa tentang materi yang ada.

About these ads

One response to “Pembelajaran Satuan Berat di Kelas IV SD dengan Pendekatan PMRI

  1. subhanallah muridnya cerdas-cerdas, bs jd refrensi saya dalam mengajar MM di SD.
    ttp smngat utk ank indonesia penerus bangsa ini. :) salam sejawat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s